MA & PARTNERS LAW FIRM


Ramadhan Lecture Series: Mengasah Ketajaman Pena untuk Memenuhi Panggilan Tridharma dan Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam

Tangerang Selatan, Hukum-PediaNews - Bulan Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai momentum spiritual untuk meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga sebagai ruang refleksi intelektual bagi umat Islam dalam memperkuat tradisi keilmuan. Dalam konteks dunia akademik, Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali peran intelektual dalam menjalankan amanah Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu bentuk ikhtiar intelektual tersebut diwujudkan melalui kegiatan Ramadhan Lecture Series dengan tema “Mengasah Ketajaman Pena untuk Memenuhi Panggilan Tridharma dan Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam.”

Ketua LPPM Universitas Pamulang, Bapak Dr. Susanto, S.H., S.M., S.Ak., M.M., M.H., M.A.P dalam sambutannya menyampaikan bahwa Tema ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tantangan dunia akademik saat ini. Di tengah arus transformasi digital dan perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, kemampuan menulis ilmiah menjadi salah satu kompetensi fundamental yang harus dimiliki oleh para akademisi, peneliti, dan mahasiswa. Menulis tidak sekadar aktivitas akademik, melainkan juga bentuk tanggung jawab intelektual dalam mendokumentasikan gagasan, menyebarkan pengetahuan, serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan peradaban.


Tangerang Selatan, Hukum-PediaNews - Bapak Dr. Zamzam Nurhuda, S.S., M.A. Hum Dalam materinya menyampaikan bahwa perspektif Islam, tradisi menulis memiliki akar historis yang sangat kuat. Peradaban Islam klasik menunjukkan bagaimana para ulama dan ilmuwan Muslim menjadikan tulisan sebagai medium utama dalam mentransmisikan ilmu pengetahuan. Tokoh-tokoh seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, hingga Ibnu Khaldun telah menghasilkan karya-karya monumental yang tidak hanya memengaruhi dunia Islam, tetapi juga peradaban global. Tradisi penulisan tersebut menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan berkembang melalui dokumentasi yang sistematis dan penyebaran gagasan yang berkelanjutan. Kamis, 05 Maret 2026.

Namun demikian, dalam realitas akademik kontemporer, tradisi menulis sering kali menghadapi berbagai tantangan. Sebagian akademisi masih memandang aktivitas menulis sebagai kewajiban administratif semata, terutama dalam konteks publikasi jurnal atau pemenuhan indikator kinerja akademik. Padahal, lebih dari itu, menulis sejatinya merupakan bentuk aktualisasi intelektual dan sarana kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.


Ibu Christy Tisnawijaya, S.S., M.Hum dalam materinya menyampaikan bahwa kegiatan Ramadhan Lecture Series menjadi ruang strategis untuk menumbuhkan kembali semangat literasi ilmiah di kalangan akademisi dan mahasiswa. Melalui forum ini, peserta tidak hanya diajak untuk memahami teknik penulisan ilmiah yang baik, tetapi juga didorong untuk menyadari makna filosofis dari aktivitas menulis sebagai bagian dari ibadah intelektual. Dalam konteks ini, menulis bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan juga bentuk pengabdian kepada masyarakat melalui penyebaran ilmu yang bermanfaat. Selain itu, penguatan budaya menulis juga menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Dalam aspek pendidikan, menulis membantu mahasiswa dan dosen untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis. Dalam bidang penelitian, publikasi ilmiah menjadi sarana untuk menyebarluaskan temuan penelitian kepada komunitas akademik yang lebih luas. Sementara dalam pengabdian kepada masyarakat, tulisan ilmiah dapat menjadi media edukasi dan advokasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial.

Reaktualisasi tradisi ilmiah Islam melalui kegiatan seperti Ramadhan Lecture Series juga memiliki makna strategis dalam membangun kembali identitas intelektual umat Islam. Tradisi keilmuan Islam pada masa lalu tidak hanya berkembang di masjid atau madrasah, tetapi juga melalui kegiatan diskusi ilmiah, penulisan kitab, dan pertukaran gagasan antarilmuwan. Spirit intelektual inilah yang perlu dihidupkan kembali di lingkungan perguruan tinggi dan masyarakat akademik saat ini.

Di era digital, peluang untuk menyebarluaskan karya ilmiah semakin terbuka luas. Berbagai platform publikasi ilmiah, repositori digital, hingga jurnal internasional memberikan ruang bagi para akademisi untuk memperluas dampak keilmuannya. Namun, peluang tersebut harus diiringi dengan peningkatan kualitas literasi akademik dan komitmen terhadap integritas ilmiah.

Akhirnya, Ramadhan Lecture Series dengan tema “Mengasah Ketajaman Pena untuk Memenuhi Panggilan Tridharma dan Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam” bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan gerakan intelektual untuk menghidupkan kembali budaya menulis di kalangan akademisi. Dengan ketajaman pena, gagasan-gagasan ilmiah dapat terus berkembang, memberikan manfaat bagi masyarakat, serta menjadi bagian dari kontribusi nyata dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman.

Melalui momentum Ramadhan ini, diharapkan lahir generasi akademisi yang tidak hanya cakap dalam berpikir, tetapi juga produktif dalam menulis. Sebab, dalam sejarah peradaban, kemajuan suatu bangsa selalu ditopang oleh tradisi literasi yang kuat. Dan dari ketajaman pena itulah, ilmu pengetahuan akan terus hidup, berkembang, dan memberikan cahaya bagi masa depan umat manusia. (Red/YH)
Previous Post